PAMEKASAN – Bakorwil IV Pamekasan menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) bertajuk "Optimalisasi Dana Desa Untuk Ketahanan Pangan". Kegiatan strategis ini berlangsung di Ruang Rapat Trunojoyo pada Senin (29/06/2026), bertujuan untuk mensinergikan pengelolaan Dana Desa sebagai motor penggerak perekonomian desa, utamanya melalui sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan penguatan kelembagaan lokal se-Madura.
Mewakili Kepala Bakorwil IV Pamekasan, Sekretaris Bakorwil Bapak Muhyi, S.Sos., M.Si. dalam sambutannya menyoroti kondisi riil produk pedesaan yang belum optimal dalam proses hilirisasi. Beliau menekankan bahwa paradigma Dana Desa saat ini tidak lagi hanya sebagai pembiayaan infrastruktur, tetapi investasi ekonomi masyarakat.
"Banyak komoditas unggulan desa yang masih dijual dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah ekonominya justru dinikmati oleh daerah lain. Dana Desa harus didorong untuk mendukung pengolahan hasil produksi, branding, hingga pemasaran agar nilai jual produk meningkat drastis."
Kemandirian Desa dan Realisasi Dana di Jatim
Afton Ilman Huda S.Sos., MM., Analis Kebijakan Ahli Pertama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Timur, memaparkan pencapaian positif pembangunan desa di Jawa Timur. Saat ini, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah Desa Mandiri terbanyak di tingkat nasional, yakni 4.716 desa atau sekitar 23% dari total keseluruhan secara nasional.
Afton mengungkapkan, hingga 29 Juni 2026, realisasi penyaluran Dana Desa di Jatim telah mencapai Rp2,013 triliun (76,70%) kepada 7.691 desa. "Dana desa ini diprioritaskan pada program ketahanan pangan, Bantuan Langsung Tunai (BLT), adaptasi perubahan iklim, serta kesiapan desa dalam menyuplai bahan baku untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program strategis pemerintah," paparnya.
Teknologi Tepat Guna dan Inovasi oleh UTM
Dalam upaya memperkuat kapasitas produksi, Sekretaris LPPM Universitas Trunojoyo Madura (UTM), M. Latif, S. Kom., MT., menyampaikan urgensi pemetaan potensi desa berbasis data. Potensi lokal di Madura seperti jagung, sapi, perikanan, dan garam harus dikelola oleh BUMDes yang profesional dan berorientasi pasar.
"UTM siap mendampingi inovasi BUMDes. Kami memiliki teknologi tepat guna seperti otomatisasi penyiraman air untuk greenhouse melon, dan kami siap memfasilitasi riset agar BUMDes dapat segera melakukan hilirisasi produk," tegas Latif.
Sinergitas Kelembagaan dan Stabilitas Harga
Sesi diskusi berlangsung dinamis, menanggapi berbagai kendala yang dihadapi desa. Salah satu isu utama yang diangkat oleh perwakilan DPMD Bangkalan adalah sinergitas antara keberadaan BUMDes dengan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Ditekankan bahwa keduanya harus saling melengkapi melalui pembagian peran kewenangan; BUMDes fokus pada usaha berjalan, sementara Kopdes mengambil mandat yang belum terakomodasi.
Di samping itu, fluktuasi harga, seperti naiknya harga pakan ternak yang tidak sebanding dengan harga jual telur di BUMDes Cempaka Putih, menjadi perhatian khusus. Untuk mengatasi kendala pemasaran, pemerintah saat ini tengah merumuskan formula komunikasi dengan Disperindag Jatim agar produk-produk lokal tersebut dapat diserap oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebagai tindak lanjut guna mengatasi persoalan kualitas SDM pengelola, rakor merumuskan kesimpulan strategis, yaitu:
- Pelaksanaan pendampingan dan pelatihan penyusunan laporan keuangan sederhana bagi BUMDes agar operasional dan tata kelola unit usaha berjalan akuntabel, transparan, dan profesional.
- Bakorwil IV Pamekasan akan memfasilitasi pendampingan pengembangan produk unggulan BUMDes, khususnya dalam hal penguatan branding dan perluasan pangsa pasar.
Rapat koordinasi yang dihadiri oleh seluruh DPMD, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian se-Madura, serta perwakilan BUMDes ini secara resmi ditutup pada pukul 13.00 WIB oleh Kepala Sub. Bidang Pembangunan Ekonomi II Bakorwil IV Pamekasan.